Hal 106-111
Ketika suami saya, Bob secara tiba-tiba meninggal pada bulan januari 1994, saya menerima uvapan belasungkawa dari berbagai orang yang sudah sejak bertahun-tahun tidak ada kabar beritanya. Mereka menulis surat,mengirim karangan bunga,menelepon, dan ada juga yang datang kerumah sendiri. Saya sangat sedih, namun merasa terhibur oleh curahan kasih sayang dari sanak keluarga, saudara,teman-teman, dan bahkan dari kenalan biasa, satu pesan diantaranya sangat menyentuh hati saya dari seorang sahabat karib saya sejak dari kelas enam sd sampai tamat sekolah menengah, sejak lulus pada tahun 1949 kami berpisah karena ia tinggal di kota asal kami dan sedangkan saya harus berpindah. Pertemanan kami bisa dibilang jenis yang dapat cepat menjalin hubungan baik kembali meski jarang ketemu selama 5 atau 10 tahun, suaminya, Pete, meninggal sekitar 20 tahun lalu ia mengalami hal berat saat itu karena sulit mencari pekerjaan untuk menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil dan diselubungi rasa duka karena ditinggal Pete. Dalam suratnya itu sahabat saya menuturkan anekdot dari almarhum ibu saya ketika ia masih hidup dan ketika suaminya Bonnie, Pete meninggal, anekdot itu berisi kata yang diucapkan ibu saya "Bonnie aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi kukatakan saja bahwa aku sayang padamu."
Setelah mendengar kata tersebut saya merasa bahwa ibu saya sendiri yang berbicara kepada saya. Benar-benar pesan yang sangat kuat untuk mengungkapkan simpati! "Aku sayang padamu" Kata-kata yang tepat, suatu hadiah wasiat.
Terkadang kasih sayanglah obat dari segala duka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar